Pagi itu sang Profesor dengan mantap memberi kuliah pada Mahasiswi yang cantik-cantik. Tiba-tiba beberapa mahasiswi tertawa kecil cekikikan demi melihat ruitsleting celana sang profesor yang masih membuka.
Seorang mahasiswi yang centil mengacungkan jari telunjuk sambil teriak :
"Tanya Prof...!!!"
Profesor ; "Baik apa yang akan kamu tanyakan .... ?"
Mahasiswi ; "Anu Prof.... tada waktu berangkat pintu garasi Profesor lupa belum ditutup ya... ?"
Sementara temannya tertawa cekikian.
Profesor berfikir sejenak ; "Sudah.... Sudah.... Saya pastikan sudah... Kenapa...?"
Mahasiswi : "Nggak apa-apa Prof..."
Perkuliahan dilanjutkan lagi.
Belakangan baru disadari bahwa yang dimaksud pintu garasi oleh mahasiswi adalah ruitsleting celananya. Keesokan harinya sebelum mulai kuliah, Profesor langsung bertanya pada mahasiswi ;
Profesor ; "Kemarin waktu pintu garasi saya kebuka, kalian lihat Mobil Mercy ya....."
Mahasiswi ; "Bukan Prof.... Digarasi ada Bemo BUTUT....."
Mahasiswi & temannya ; "Wkk wkk wkk........."
Kalo 2 orang saling bertukar uang, maka masing-masing akan memperoleh nilai yang sama. Tapi kalau 2 orang atau lebih bertukar pengalaman, masing-masing akan memperoleh hasil yang lebih banyak. Jadi, marilah kita berbagi pengalaman, diskusi, curhat, opini, kata hati, atau apa saja untuk mengurangi tingkat stress kita yang kian hari kian parah
Tampilkan postingan dengan label CERITA LUCU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA LUCU. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Februari 2012
Minggu, 05 Februari 2012
Memperpanjang STNK
Seorang Sopir disuruh Bos-nya untuk membayar pajak kendaraan bermotornya ;
Bos ; "Besok pajak kendaraan habis, lu perpanjang STNK-nya...."
Sopir ; "Baik Bos... Tapi.... tapi...."
Bos ; "Tapi apa ? Gak kerja gak apa-apa ditunggu sampai selesai...."
Sopir ; "Tapi Bos....?"
Bos ; "Apa lagi...? nggak dipotong nggak gaji lu...!!!"
Sopir ; "Anu Bos.... ?"
Bos ; "Apalagi... ? Uang saku....? Jangan khawatir.... pasti tak kasih..."
Sopir ; "Maksud saya mau diperpanjang berapa meter STNK-nya...?"
Wkk wkk wkk..........
Bos ; "Besok pajak kendaraan habis, lu perpanjang STNK-nya...."
Sopir ; "Baik Bos... Tapi.... tapi...."
Bos ; "Tapi apa ? Gak kerja gak apa-apa ditunggu sampai selesai...."
Sopir ; "Tapi Bos....?"
Bos ; "Apa lagi...? nggak dipotong nggak gaji lu...!!!"
Sopir ; "Anu Bos.... ?"
Bos ; "Apalagi... ? Uang saku....? Jangan khawatir.... pasti tak kasih..."
Sopir ; "Maksud saya mau diperpanjang berapa meter STNK-nya...?"
Wkk wkk wkk..........
Rabu, 01 Februari 2012
Mirip Ayu Ting Ting
Seorang anak kecil mengejar-ngejar cewek yang dikira Ayu Ting Ting
Anak kecil ; "Mba... mba.....". Yang dipanggil menoleh.
Cewek ; "Ada apa dik...?"
Anak Kecil ; "Mba Ayu Ting Ting ya ?"
Cewek ; "Bukan... saya bukan Ayu Ting Ting..."
Anak Kecil ; "Mba jangan bohong dech. Mba ini Ayu Ting Ting kan ? Penyanyi yang kondang itu kan ?"
Cewek ; "Bukan.... saya bukan Ayu Ting Ting..." jawabnya sambil berlalu. Tapi anak kecil itu mengejar terus
Anak Kecil ; "Mba... ayo dong ngaku kalau mba ini Ayu Ting Ting.... Iya kan... ? Iya kan...?" rengeknya.
Karena jengkel si Cewek menjawab seenaknya saja.
Cewek ; "Iya aku Ayu Ting Ting.... Puas...!!?"
Anak Kecil ; "Tapi kok nggak mirip ya..... ?"
Busyeett....... !!!
Anak kecil ; "Mba... mba.....". Yang dipanggil menoleh.
Cewek ; "Ada apa dik...?"
Anak Kecil ; "Mba Ayu Ting Ting ya ?"
Cewek ; "Bukan... saya bukan Ayu Ting Ting..."
Anak Kecil ; "Mba jangan bohong dech. Mba ini Ayu Ting Ting kan ? Penyanyi yang kondang itu kan ?"
Cewek ; "Bukan.... saya bukan Ayu Ting Ting..." jawabnya sambil berlalu. Tapi anak kecil itu mengejar terus
Anak Kecil ; "Mba... ayo dong ngaku kalau mba ini Ayu Ting Ting.... Iya kan... ? Iya kan...?" rengeknya.
Karena jengkel si Cewek menjawab seenaknya saja.
Cewek ; "Iya aku Ayu Ting Ting.... Puas...!!?"
Anak Kecil ; "Tapi kok nggak mirip ya..... ?"
Busyeett....... !!!
Jumat, 28 Oktober 2011
Kafilah Yang Kelelahan
Ada seorang Kafilah yang melintasi gurun pasir yang luas dan jauh bersama se ekor Untanya. Karena kelelahan Untanya mogok tertidur dan tidak mau melanjutkan perjalanan lagi. Demikian pula sang Kafilah yang kecapaian ikut duduk di dekat sang Unta.
Dalam duduk kecapaian, Kafilah teringat bahwa ia membawa bekal balsam gosok. Ia kelurkan balsam gosoknya untuk menggosok kakinya yang sakit kelelahan. Pada saat ia menggosok kakinya hingga Paha dan terus ke atas sampai pangkal paha, tangannya menyentuh buah kemaluannya. Serta merta, ia lari tunggang langgang kepanasan......
Setelah agak reda, ia berfikir ; "Kalau begitu, biar Untanya bisa jalan disentuh balsam saja alat kelaminnya.." begitu pikirnya. "Atau biar lari kencang, digosok saja sekalian pakai balsem..."
Setelah barang-barangnya dikemas dan digantungkan pada punggung Unta yang masih tiduran kelelahan, mulailah sang Kafilah menyiapkan balsam, dan mengambilnya sebagian lalu digosokkannya pada kelamin Unta, yang secara anatomi tidak beda jauh dengan miliknya.
Kontan saja Untanya lari tak terkendali. barang-barang bekalnya saling berjatuhan....
Dalam duduk kecapaian, Kafilah teringat bahwa ia membawa bekal balsam gosok. Ia kelurkan balsam gosoknya untuk menggosok kakinya yang sakit kelelahan. Pada saat ia menggosok kakinya hingga Paha dan terus ke atas sampai pangkal paha, tangannya menyentuh buah kemaluannya. Serta merta, ia lari tunggang langgang kepanasan......
Setelah agak reda, ia berfikir ; "Kalau begitu, biar Untanya bisa jalan disentuh balsam saja alat kelaminnya.." begitu pikirnya. "Atau biar lari kencang, digosok saja sekalian pakai balsem..."
Setelah barang-barangnya dikemas dan digantungkan pada punggung Unta yang masih tiduran kelelahan, mulailah sang Kafilah menyiapkan balsam, dan mengambilnya sebagian lalu digosokkannya pada kelamin Unta, yang secara anatomi tidak beda jauh dengan miliknya.
Kontan saja Untanya lari tak terkendali. barang-barang bekalnya saling berjatuhan....
Minggu, 29 Agustus 2010
Jawaban Ulangan yang sama
Pada saat murid-murid mengikuti ulangan harian, ada saja anak yang malas dan usil sehingga bodoh dan kesulitan dalam mengerjakan soal ulangan. Ia adalah Bowo. Bowo mencari jalan pintas dengan merebut lembar jawaban temannya yang pandai untuk di salin kedalam lembar jawaban dirinya. Karena agak terburu-buru maka jawabannya persis dengan milik temannya baik kalimat, titik, garis dan komanya. Pengawas sebenarnya sudah memperhatikan Bowo, tapi Bowo tidak tahu kalau sedang diawasi, sampai akhirnya bel berbunyi tanda waktu sudah habis.
Pengawas: “waktu sudah habis, lembar jawaban segera kumpulkan sekarang”
Murid-murid segera mengumpulkan lembar jawaban. Begitu pengawas melihat lembar jawaban Bowo, ternyata sama persisi dengan jawab temannya, karena hasil nyontek milik temannya.
Pengawas : "Bowo, sini !!". Kemudian Bowo mendekat.
Bowo : "Ada apa bu ??"
Pengawas : "Kenapa jawaban kamu sama persis dengan jawaban temanmu ?? Kamu nyontek
punya teman ya !!"
Bowo : "Lho ibu gemana si ?. Karena soal yang dibagikan sama persis, ya
jawabannya juga harus sama persis ??"
Huwa huwa huwa ha ha ha................
Pengawas: “waktu sudah habis, lembar jawaban segera kumpulkan sekarang”
Murid-murid segera mengumpulkan lembar jawaban. Begitu pengawas melihat lembar jawaban Bowo, ternyata sama persisi dengan jawab temannya, karena hasil nyontek milik temannya.
Pengawas : "Bowo, sini !!". Kemudian Bowo mendekat.
Bowo : "Ada apa bu ??"
Pengawas : "Kenapa jawaban kamu sama persis dengan jawaban temanmu ?? Kamu nyontek
punya teman ya !!"
Bowo : "Lho ibu gemana si ?. Karena soal yang dibagikan sama persis, ya
jawabannya juga harus sama persis ??"
Huwa huwa huwa ha ha ha................
Cita-Cita
Pada saat duduk di bangku Sekolah Dasar, mungkin anda pernah ditanya satu persatu oleh guru anda. Begitupun pada suatu Sekolah Dasar terpencil. Sang guru menanyakan satu per satu masing-masing murid tentang harapan dan cita-citanya.
Guru ; “ Apa Cita-citamu Johan ?”
Johan : “ Jadi Menteri Bu”
Guru : “ Kalau kamu Susi ?
Susi : “ Jadi Dokter Bu”
Guru : “ Dodi, apa cita-citamu nak ?”
Dodi : “ Mau jadi Pilot Bu”
Guru : “ Apa Cita-citamu Siti ?”
Siti : “ Saya mau jadi ibu rumah tangga bu, merawat anak dan menjadi istri yang
baik. Melayani suami dengan baik agar menjadi keluarga yang bahagia”
Guru : “ Bagus. Itu juga cita-cita yang mulia. Sekarang apa cita-cita kamu Amin
?”
Amin : (sambil tersenyum simpul) “Anu bu, saya ingin membantu mewujudkan cita-
citanya Siti. Menjadi Suami yang setia..”
Guru & Murid : “Ha ha ha ha……….” Wakakak…..
Guru ; “ Apa Cita-citamu Johan ?”
Johan : “ Jadi Menteri Bu”
Guru : “ Kalau kamu Susi ?
Susi : “ Jadi Dokter Bu”
Guru : “ Dodi, apa cita-citamu nak ?”
Dodi : “ Mau jadi Pilot Bu”
Guru : “ Apa Cita-citamu Siti ?”
Siti : “ Saya mau jadi ibu rumah tangga bu, merawat anak dan menjadi istri yang
baik. Melayani suami dengan baik agar menjadi keluarga yang bahagia”
Guru : “ Bagus. Itu juga cita-cita yang mulia. Sekarang apa cita-cita kamu Amin
?”
Amin : (sambil tersenyum simpul) “Anu bu, saya ingin membantu mewujudkan cita-
citanya Siti. Menjadi Suami yang setia..”
Guru & Murid : “Ha ha ha ha……….” Wakakak…..
Minggu, 10 Januari 2010
KENEK TEMBOK
“Semarang Jogya… Semarang Jogya…. Semarang Jogya…… “ ; teriak seorang calo.
“Bandung… Bandung…. Bandung….” ; teriak calo yang lain.
Pagi itu suasana terminal Pulogadung cukup ramai. Suara deru kendaraan yang sedang menunggu penumpang memekkakan telinga. Sesekali bunyi klakson bus yang lain tidak kalah kerasnya ; “Trreeeeet ..!! Trrreeet…..!!”.
Dan diujung utara terlihat bus yang maju mundur sedang atret menempatkan posisinya. “Terus….. terus….. !” teriak sang kenek yang asli Jawa sambil melambai-lambaikan tengannya tanda agar bus terus maju. Tangan sopir dari Batak yang gesit memutar-mutar kemudi sambil memperhatikan pandangan depan dan sepion. “Bales….! Bales….!” Terika sang kenek lagi.
“Gemana nich …?” Tanya sang sopir kepada kenek karena pendangannya kurang jelas.
“Terus….! Teruss………! Teruuuuuussssss……” jawab kenek bus.
Maka sopirpun semakin kenceng nancap gasnya. Tiba-tiba…. “Braacckkkk…!”. Bis menghantam tembok. Betapa marah si sopir pada keneknya karena dibilang terus… terussss…. “Bah gemana pula kau ini…. Dasar Kenek Taek louh …!! “.
Keneknya menjawab tanpa merasa bersalah ; “Nggak kok mas… Kenek tembok…”
Oalaaah. Yang dimaksud itu kenek kayak (maaf) tai/tinja/kotoran manusia. Tapi si kenek mengira kenek (kena) kotoran, padahal kena (menghantam) tembok. Dasar …. Sama-sama gobloknya…..
“Bandung… Bandung…. Bandung….” ; teriak calo yang lain.
Pagi itu suasana terminal Pulogadung cukup ramai. Suara deru kendaraan yang sedang menunggu penumpang memekkakan telinga. Sesekali bunyi klakson bus yang lain tidak kalah kerasnya ; “Trreeeeet ..!! Trrreeet…..!!”.
Dan diujung utara terlihat bus yang maju mundur sedang atret menempatkan posisinya. “Terus….. terus….. !” teriak sang kenek yang asli Jawa sambil melambai-lambaikan tengannya tanda agar bus terus maju. Tangan sopir dari Batak yang gesit memutar-mutar kemudi sambil memperhatikan pandangan depan dan sepion. “Bales….! Bales….!” Terika sang kenek lagi.
“Gemana nich …?” Tanya sang sopir kepada kenek karena pendangannya kurang jelas.
“Terus….! Teruss………! Teruuuuuussssss……” jawab kenek bus.
Maka sopirpun semakin kenceng nancap gasnya. Tiba-tiba…. “Braacckkkk…!”. Bis menghantam tembok. Betapa marah si sopir pada keneknya karena dibilang terus… terussss…. “Bah gemana pula kau ini…. Dasar Kenek Taek louh …!! “.
Keneknya menjawab tanpa merasa bersalah ; “Nggak kok mas… Kenek tembok…”
Oalaaah. Yang dimaksud itu kenek kayak (maaf) tai/tinja/kotoran manusia. Tapi si kenek mengira kenek (kena) kotoran, padahal kena (menghantam) tembok. Dasar …. Sama-sama gobloknya…..
Jumat, 08 Januari 2010
KAMSIA
Ketika itu Saudagar barang bekas alias besi tua mengirim barang ke toko “QWERT” di daerah Tegal Barat. Setelah dibuatkan nota dan barang-barangnya dibayar oleh pemilik toko, maka sang Saudagar segera berpamitan untuk pulang.
“Terimakasih ya Bah (Babah/tuan) besok-besok saya kirim lagi”, katanya seraya memasukkan uangnya kedalam saku celana. Pemilik tokopun menjawabnya dengan girang dan saling bersautan dengan sang istri yang berdiri didekatnya ; “Ya sama-sama. Kamisa… kamsia…. “
Sang Saudagar keluar toko sambil terheran-heran dengan kata-kata pemilik toko “kamsia”. “Apa sih yang dimaksud dengan kamsia ?” Begitu tanyanya dalam hati. Tapi mau balik untuk menanyakan artinya rasanya malu. Kurang gaul. Akhirnya ngeloyor saja bergegas menghampiri Becak yang mangkal di seberang jalan.
Karena masih penasaran dengan kata-kata “kamsia”, sebelum naik becak sang Suadagar menanyakan dulu kepada tukang becak : “Bang, waktu saya pamitan tadi Babah pemilik toko bilang kamisa… kamsia… abang tau artinya ?”
“Ooooh itu artinya Kurang ajar….” Jawab tukang becak membohongi Saudagar. Padahal arti yang sebenarnya adalah “terima kasih”. Seketika itu wajah sang Saudagar merah padam. Giginya gemertak karena geramnya menahan amarah dikatakan kurang ajar oleh pemilik toko.
“Bang !! cepat antarkan saya ke toko itu !” pinta Saudagar tergesa-gesa. Abang becak menurut saja menyiapkan Becaknya. Begitu sampai didepan toko, langsung memanggil pemilik toko ; “Bah, Babaeh, Nyonyaeh, Pelayannya, Pembantunya, semua kesini !” suaranya lantang. Yang dipanggil segera mendekat karena agak heran. Begitu berhadapan dengan sang Saudagar, Saudagar berteriak keras penuh emosi ; “Babaeh, Nyonyaeh, Pelanya, Pembantunya, kamu-kamu kamsia semua …!!!” begitu selesai bicara langsung ngacir naik becak karena merasa puas telah membalas penghinaan kepada dirinya. Pemilik toko dan pembantu-pembantunya melongo terheran-heran dengan ucapan dan perilaku Saudagar besi tua itu. Bilang Kamsia… tapi kok sambil marah ?
Sementara tukang becak dari kejauhan senyum-senyum telah meledek Sudagar.
Begitu sampai di terminal Saudagar turun dari becak sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, dan dibayarkannya kepada si tukang becak. “Nih ongkosnya !” ucapnya kasar sambil menyodorkan uangnya. Karena dirasa masih kurang, maka abang becakpun meminta tambahan. “Kok Cuma segini Pak ? tambahin dong …?”
Saudagar menjawab sambil membentak ; “He !!! kamu juga mau ikut-ikutan kamsia ??!!”
Dibentak seperti itu abang becak hanya diam sambil merenungi jawaban yang diberikan kepada Saudagar bahwa arti kamsia yang sebenarnya adalah terima kasih……
“Terimakasih ya Bah (Babah/tuan) besok-besok saya kirim lagi”, katanya seraya memasukkan uangnya kedalam saku celana. Pemilik tokopun menjawabnya dengan girang dan saling bersautan dengan sang istri yang berdiri didekatnya ; “Ya sama-sama. Kamisa… kamsia…. “
Sang Saudagar keluar toko sambil terheran-heran dengan kata-kata pemilik toko “kamsia”. “Apa sih yang dimaksud dengan kamsia ?” Begitu tanyanya dalam hati. Tapi mau balik untuk menanyakan artinya rasanya malu. Kurang gaul. Akhirnya ngeloyor saja bergegas menghampiri Becak yang mangkal di seberang jalan.
Karena masih penasaran dengan kata-kata “kamsia”, sebelum naik becak sang Suadagar menanyakan dulu kepada tukang becak : “Bang, waktu saya pamitan tadi Babah pemilik toko bilang kamisa… kamsia… abang tau artinya ?”
“Ooooh itu artinya Kurang ajar….” Jawab tukang becak membohongi Saudagar. Padahal arti yang sebenarnya adalah “terima kasih”. Seketika itu wajah sang Saudagar merah padam. Giginya gemertak karena geramnya menahan amarah dikatakan kurang ajar oleh pemilik toko.
“Bang !! cepat antarkan saya ke toko itu !” pinta Saudagar tergesa-gesa. Abang becak menurut saja menyiapkan Becaknya. Begitu sampai didepan toko, langsung memanggil pemilik toko ; “Bah, Babaeh, Nyonyaeh, Pelayannya, Pembantunya, semua kesini !” suaranya lantang. Yang dipanggil segera mendekat karena agak heran. Begitu berhadapan dengan sang Saudagar, Saudagar berteriak keras penuh emosi ; “Babaeh, Nyonyaeh, Pelanya, Pembantunya, kamu-kamu kamsia semua …!!!” begitu selesai bicara langsung ngacir naik becak karena merasa puas telah membalas penghinaan kepada dirinya. Pemilik toko dan pembantu-pembantunya melongo terheran-heran dengan ucapan dan perilaku Saudagar besi tua itu. Bilang Kamsia… tapi kok sambil marah ?
Sementara tukang becak dari kejauhan senyum-senyum telah meledek Sudagar.
Begitu sampai di terminal Saudagar turun dari becak sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, dan dibayarkannya kepada si tukang becak. “Nih ongkosnya !” ucapnya kasar sambil menyodorkan uangnya. Karena dirasa masih kurang, maka abang becakpun meminta tambahan. “Kok Cuma segini Pak ? tambahin dong …?”
Saudagar menjawab sambil membentak ; “He !!! kamu juga mau ikut-ikutan kamsia ??!!”
Dibentak seperti itu abang becak hanya diam sambil merenungi jawaban yang diberikan kepada Saudagar bahwa arti kamsia yang sebenarnya adalah terima kasih……
Langganan:
Postingan (Atom)