“Semarang Jogya… Semarang Jogya…. Semarang Jogya…… “ ; teriak seorang calo.
“Bandung… Bandung…. Bandung….” ; teriak calo yang lain.
Pagi itu suasana terminal Pulogadung cukup ramai. Suara deru kendaraan yang sedang menunggu penumpang memekkakan telinga. Sesekali bunyi klakson bus yang lain tidak kalah kerasnya ; “Trreeeeet ..!! Trrreeet…..!!”.
Dan diujung utara terlihat bus yang maju mundur sedang atret menempatkan posisinya. “Terus….. terus….. !” teriak sang kenek yang asli Jawa sambil melambai-lambaikan tengannya tanda agar bus terus maju. Tangan sopir dari Batak yang gesit memutar-mutar kemudi sambil memperhatikan pandangan depan dan sepion. “Bales….! Bales….!” Terika sang kenek lagi.
“Gemana nich …?” Tanya sang sopir kepada kenek karena pendangannya kurang jelas.
“Terus….! Teruss………! Teruuuuuussssss……” jawab kenek bus.
Maka sopirpun semakin kenceng nancap gasnya. Tiba-tiba…. “Braacckkkk…!”. Bis menghantam tembok. Betapa marah si sopir pada keneknya karena dibilang terus… terussss…. “Bah gemana pula kau ini…. Dasar Kenek Taek louh …!! “.
Keneknya menjawab tanpa merasa bersalah ; “Nggak kok mas… Kenek tembok…”
Oalaaah. Yang dimaksud itu kenek kayak (maaf) tai/tinja/kotoran manusia. Tapi si kenek mengira kenek (kena) kotoran, padahal kena (menghantam) tembok. Dasar …. Sama-sama gobloknya…..
Kalo 2 orang saling bertukar uang, maka masing-masing akan memperoleh nilai yang sama. Tapi kalau 2 orang atau lebih bertukar pengalaman, masing-masing akan memperoleh hasil yang lebih banyak. Jadi, marilah kita berbagi pengalaman, diskusi, curhat, opini, kata hati, atau apa saja untuk mengurangi tingkat stress kita yang kian hari kian parah
Tampilkan postingan dengan label SARU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SARU. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Januari 2010
Jumat, 08 Januari 2010
KAMSIA
Ketika itu Saudagar barang bekas alias besi tua mengirim barang ke toko “QWERT” di daerah Tegal Barat. Setelah dibuatkan nota dan barang-barangnya dibayar oleh pemilik toko, maka sang Saudagar segera berpamitan untuk pulang.
“Terimakasih ya Bah (Babah/tuan) besok-besok saya kirim lagi”, katanya seraya memasukkan uangnya kedalam saku celana. Pemilik tokopun menjawabnya dengan girang dan saling bersautan dengan sang istri yang berdiri didekatnya ; “Ya sama-sama. Kamisa… kamsia…. “
Sang Saudagar keluar toko sambil terheran-heran dengan kata-kata pemilik toko “kamsia”. “Apa sih yang dimaksud dengan kamsia ?” Begitu tanyanya dalam hati. Tapi mau balik untuk menanyakan artinya rasanya malu. Kurang gaul. Akhirnya ngeloyor saja bergegas menghampiri Becak yang mangkal di seberang jalan.
Karena masih penasaran dengan kata-kata “kamsia”, sebelum naik becak sang Suadagar menanyakan dulu kepada tukang becak : “Bang, waktu saya pamitan tadi Babah pemilik toko bilang kamisa… kamsia… abang tau artinya ?”
“Ooooh itu artinya Kurang ajar….” Jawab tukang becak membohongi Saudagar. Padahal arti yang sebenarnya adalah “terima kasih”. Seketika itu wajah sang Saudagar merah padam. Giginya gemertak karena geramnya menahan amarah dikatakan kurang ajar oleh pemilik toko.
“Bang !! cepat antarkan saya ke toko itu !” pinta Saudagar tergesa-gesa. Abang becak menurut saja menyiapkan Becaknya. Begitu sampai didepan toko, langsung memanggil pemilik toko ; “Bah, Babaeh, Nyonyaeh, Pelayannya, Pembantunya, semua kesini !” suaranya lantang. Yang dipanggil segera mendekat karena agak heran. Begitu berhadapan dengan sang Saudagar, Saudagar berteriak keras penuh emosi ; “Babaeh, Nyonyaeh, Pelanya, Pembantunya, kamu-kamu kamsia semua …!!!” begitu selesai bicara langsung ngacir naik becak karena merasa puas telah membalas penghinaan kepada dirinya. Pemilik toko dan pembantu-pembantunya melongo terheran-heran dengan ucapan dan perilaku Saudagar besi tua itu. Bilang Kamsia… tapi kok sambil marah ?
Sementara tukang becak dari kejauhan senyum-senyum telah meledek Sudagar.
Begitu sampai di terminal Saudagar turun dari becak sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, dan dibayarkannya kepada si tukang becak. “Nih ongkosnya !” ucapnya kasar sambil menyodorkan uangnya. Karena dirasa masih kurang, maka abang becakpun meminta tambahan. “Kok Cuma segini Pak ? tambahin dong …?”
Saudagar menjawab sambil membentak ; “He !!! kamu juga mau ikut-ikutan kamsia ??!!”
Dibentak seperti itu abang becak hanya diam sambil merenungi jawaban yang diberikan kepada Saudagar bahwa arti kamsia yang sebenarnya adalah terima kasih……
“Terimakasih ya Bah (Babah/tuan) besok-besok saya kirim lagi”, katanya seraya memasukkan uangnya kedalam saku celana. Pemilik tokopun menjawabnya dengan girang dan saling bersautan dengan sang istri yang berdiri didekatnya ; “Ya sama-sama. Kamisa… kamsia…. “
Sang Saudagar keluar toko sambil terheran-heran dengan kata-kata pemilik toko “kamsia”. “Apa sih yang dimaksud dengan kamsia ?” Begitu tanyanya dalam hati. Tapi mau balik untuk menanyakan artinya rasanya malu. Kurang gaul. Akhirnya ngeloyor saja bergegas menghampiri Becak yang mangkal di seberang jalan.
Karena masih penasaran dengan kata-kata “kamsia”, sebelum naik becak sang Suadagar menanyakan dulu kepada tukang becak : “Bang, waktu saya pamitan tadi Babah pemilik toko bilang kamisa… kamsia… abang tau artinya ?”
“Ooooh itu artinya Kurang ajar….” Jawab tukang becak membohongi Saudagar. Padahal arti yang sebenarnya adalah “terima kasih”. Seketika itu wajah sang Saudagar merah padam. Giginya gemertak karena geramnya menahan amarah dikatakan kurang ajar oleh pemilik toko.
“Bang !! cepat antarkan saya ke toko itu !” pinta Saudagar tergesa-gesa. Abang becak menurut saja menyiapkan Becaknya. Begitu sampai didepan toko, langsung memanggil pemilik toko ; “Bah, Babaeh, Nyonyaeh, Pelayannya, Pembantunya, semua kesini !” suaranya lantang. Yang dipanggil segera mendekat karena agak heran. Begitu berhadapan dengan sang Saudagar, Saudagar berteriak keras penuh emosi ; “Babaeh, Nyonyaeh, Pelanya, Pembantunya, kamu-kamu kamsia semua …!!!” begitu selesai bicara langsung ngacir naik becak karena merasa puas telah membalas penghinaan kepada dirinya. Pemilik toko dan pembantu-pembantunya melongo terheran-heran dengan ucapan dan perilaku Saudagar besi tua itu. Bilang Kamsia… tapi kok sambil marah ?
Sementara tukang becak dari kejauhan senyum-senyum telah meledek Sudagar.
Begitu sampai di terminal Saudagar turun dari becak sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, dan dibayarkannya kepada si tukang becak. “Nih ongkosnya !” ucapnya kasar sambil menyodorkan uangnya. Karena dirasa masih kurang, maka abang becakpun meminta tambahan. “Kok Cuma segini Pak ? tambahin dong …?”
Saudagar menjawab sambil membentak ; “He !!! kamu juga mau ikut-ikutan kamsia ??!!”
Dibentak seperti itu abang becak hanya diam sambil merenungi jawaban yang diberikan kepada Saudagar bahwa arti kamsia yang sebenarnya adalah terima kasih……
Langganan:
Postingan (Atom)